Tagih Hasil Tes Swab Corona, Keluarga Pasien Mengamuk di Rumah Lara Jember

JEMBER – Keluarga pasien rumah sakit preman di Jember, Jawa Timur berkecamuk saat meminta hasil swab orangtuanya yang meninggal dunia usai mendapat perawatan medis di rumah sakit tersebut dengan gejala sesak nafas.

Karena tidak tersedia penjelasan konkret, kapan hasil swab bisa diterima, keluarga pasien tepat mengamuk dengan mendorong petugas satpam dan meminta ketegasan dari paramedis rumah sakit. Sebab, pihak rumah sakit telah berjanji akan menyerahkan hasil swab.

Semula keluarga Ahmad Said, warga Jalan Gajah Mada Jember ini mendatangi rumah lara swasta di Jember dengan baik-baik, Kamis (6/8/2020). Ia kemudian diantar petugas satpam rumah sakit jawab berbicara dengan tim medis.

Baca Juga:     Tembus 597 Kasus Covid-19, Tersebut Penjelasan Pemprov DKI 

Kedatangan Ahmad Said bersama keluarganya hanya menanyakan hasil swab sebab almarhum ayahnya yang bernama Rosidi (61), yang meninggal empat hari lalu.

Sebelum meninggal, ayah Ahmad Said mendapat perawatan medis di rumah sakit swasta tersebut. Namun, ajal menjemput abu Ahmad Said, hingga akhirnya almarhum dimakamkan dengan cara protokol Covid-19.

Ahmad Said mengizinkan ayahnya meninggal dan dimakamkan dengan protokol Covid, dengan demikian Ahmad Said juga mengaku menanggung barang bawaan berat kepada masyarakat dan tetangganya karena para tetangga kerap menjauhi lantaran dianggap almarhum telah positif Covid.

Padahal, buatan swab belum keluar meski almarhum telah dimakamkan. Setelah empat keadaan pemakaman ayahnya, Ahmad Said kemudian mencoba menanyakan baik-baik kepada bagian medis rumah sakit terkait buatan swab ayahnya.

Menyuarakan Juga:     Ada 188 Kandidat Vaksin Covid-19 di Dunia, Belum Satu pun Lolos Uji Klinis

Namun, justru mendapat jawaban dari pihak medis jika hasil swab belum muncul dengan alasan masih mengantre & menunggu giliran. Karena tidak mendapat jawaban memuaskan hingga akhirnya tim Ahmad Said mengamuk.

Beruntung pihak satpam dan suku pasien lain dapat menghentikan & mereka kemudian membubarkan diri.

Sementara Dokter Maria Ulfa, staf medis rumah sakit mengiakan pasien tersebut masuk dengan keluhan sesak nafas dan dari hasil radiologi menunjukkan pneumonial biilateral. Jadi pasien dimasukkan kriteria suspek Covid-19.

Hingga akhrinya dilakukan pemeriksaan lanjut yakni, swab. Tetapi, belum juga hasil swab turun, pasien tersebut meninggal dunia.

Hasil swab baru mampu dilihat minimal empat hari & bisa jadi hingga 20 hari, karena selain pihak rumah sakit tidak memiliki alat swab & harus dilakukan swab luar. Antrean untuk uji lab dari swab pasien sangat banyak dan memerlukan waktu hingga berhari-hari untuk pendidikan hasilnya.

Pihak panti sakit pasti akan diberitahu oleh petugas lab jika hasil swab turun. Dan setelah turun kesibukan petugas medis melaporkan kepada keluarganya.

(Ari. -)

Loading…