Selain Pacitan, Ini Daerah di Jatim Berpotensi Diterjang Tsunami Setinggi 29 Meter

JAKARTA – Kepala Awak Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan sejumlah wilayah Jawa Timur lain berpotensi terdampak tsunami dengan agung maksimum 29 meter.

Selain Pacitan, kawasan lain yang berpotensi terdampak adalah Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Blitar. Bahkan, Blitar mengalami waktu tercepat datangnya tsunami yakni 20-24 menit.

Untuk itu, Dwikorita mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat di Jawa Timur terkait potensi tsunami. Segenap harus bersiap dengan ringkasan terburuk gempa dan tsunami yang berpotensi terjadi.

Hal tersebut dilakukan untuk menghindari dan menekan risiko bencana gempa serta tsunami yang mengintai pesisir selatan Jawa akibat pergerakan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

“Berdasarkan hasil penelitian, wilayah Pantai Pacitan memiliki potensi tsunami setinggi 28 meter secara estimasi waktu tiba sekitar 29 menit. Adapun mulia genangan di darat bertukar sekitar 15-16 meter dengan potensi jarak genangan menyentuh 4 – 6 kilometer dari bibir pantai, ” ujar Dwikorita, Minggu.

Sebelumnya dalam simulasi menghadapi potensi bencana, Dwikorita bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menyelenggarakan verifikasi zona bahaya & menyusuri jalur evakuasi bala.

Dwikorita menyebutkan dengan skenario tersebut oleh karena itu masyarakat yang berada di zona bahaya perlu membiasakan rutin untuk melakukan sikap evakuasi mandiri bila memperoleh Peringatan Dini Tsunami penuh 5 menit setelah gempa terjadi.

Membaca juga:   5 Kejadian Mengerikan jika Terjadi Tsunami Dahsyat 28 Meter dalam Pacitan

Kelompok, khususnya yang berada pada wilayah pesisir pantai harus segera mengungsi ke lapangan yang lebih tinggi jika merasakan goncangan gempa yang besar.

“Untuk masyarakat yang berada dalam pantai, tidak perlu menunggui perintah, aba-aba, atau sirine, segera lari karena waktu yang dimiliki hanya kira-kira 29 menit, sedangkan jangka tempat yang aman yang lebih tinggi cukup jauh, ” ujar dia.  

Dwikorita mengatakan yang namanya skenario artinya masih bersifat potensi yang bisa saja terjadi ataupun bahkan tidak terjadi. Namun demikian, masyarakat dan pemerintah daerah harus sudah jadi dengan skenario terburuk itu.  

Artinya, lanjut Dwikorita, jika umum dan pemerintah daerah siap, maka jumlah korban atma maupun kerugian materi mampu diminimalkan.  

Dengan skenario terburuk ini, kata dia, pemerintah daerah bersama-sama masyarakat bisa lebih maksimal mempersiapkan upaya mitigasi yang lebih komprehensif.

“Jika masyarakat cakap maka tidak ada istilah gugup dan gagap saat bencana terjadi. Begitu gempa terjadi, baik masyarakat maupun pemerintah sudah tahu apa-apa saja yang harus dikerjakan dalam waktu yang sangat terbatas tersebut, ” perkataan dia menegaskan.