Punya 2 Mobil Tapi Dapat Basos Tunai Akibat Data yang Semerawut

KLATEN   – Apa jadinya jika Bantuan sosial (Bansos) tunai dari Kementerian Sosial (Kemensos) selama pandemi virus corona atau Covid-19 salah sasaran? Akibat masukan yang semerawut, ada warga dengan punya dua mobil, pun dapat bantuan tersebut.

Peristiwa tersebut terjadi di Dukuh Burikan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Sebanyak 250 orang yang diusulkan agar mendapatkan Bansos Tunai atau BST tak seluruhnya ter-cover sandaran. Hal ini karena data sejak Kemensos tak sesuai dengan bahan yang diajukan Pemerintah Desa Burikan.

“(Data dari) Kemensos yang (dapat) transfer (BST) ada 22 orang kemudian yang lewat pos ada 45 orang, namun yang 9 dobel, sanggup dari transfer juga dapat dari pos. Memang bludrek kita, yang masuk justru yang kaya-kaya, pengusaha, ASN, petani sukses, ” perkataan Kepala Desa Burikan, Surata, kepada wartawan, Minggu 10 Mei 2020, malam.

Surata mengatakan, mereka yang mendapat Bansos Tunai ada yang punya besar mobil. Selain itu, ada dengan tinggal satu rumah tapi mampu dua bantuan. “Kita sudah pengesahan, tapi kita tidak mempunyai kewenangan apa-apa, wong uang sudah diambil, ” kata sang Kades.

Ia mengisahkan, tak sesuainya data penerima tersebut berawal ketika desa diminta Kemensos untuk mengirimkan data yang berhak menerima BST. Hal ini ditindaklanjuti desa dengan mengirimkan data penerima sebanyak 250 orang. Namun tak selang lama, Kemensos mengirimkan bukti yang berbeda dengan yang diajukan desa.

“Kemensos kan kita dimohon untuk melaksanakan ajuan, akhirnya kita membuat sekitar 250 orang. Cuma sebelum datang di Kemensos ternyata sudah ada yang menerima transfer. Jadi kita bingung juga. Wong kita disuruh buat data capek-capek ternyata Kemensos sendiri seperti itu. Data kita sudah naik tapi tiba-tiba keterangan turun tidak sesuai dengan keterangan yang kami ajukan, ” tuturnya.

Dijelaskan, permasalahan tersebut selanjutnya disikapi desa secara menggelar pra-Musdes yang dihadiri RT, RW, dan Tim Gugus Tempat. Dalam pra-Musdes memutuskan, bagi asosiasi yang belum mendapatkan BST akan disikapi dengan bantuan langsung tunai (BLT) bersumber Dana Desa.

“Alhamdulillah, Dana Dukuh mencukupi untuk mengcover seluruh bangsa kami. Untuk BLT total kira-kira Rp291 juta atau 30% sebab Dana Desa kami yang mencapai Rp900 juta, ” ujar Surata.

Atas peristiwa itu, lanjut Surata, kini pihaknya menunggu pemutakhiran data dari negeri pusat. Desa telah mengajukan terkait perubahan data miskin sejak Desember 2019. Data tersebut nantinya hendak dijadikan acuan desa untuk menyelaraskan perubahan.

Baca Juga:   BMKG: Bunyi Dentuman di Jateng Tidak Bersumber dari Gempa

Tengah itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Puak Berencana (Dinsos P3AKB) Klaten, Much. Natsir, menyampaikan, penerima BST dan BLT adalah dua program yang berbeda. BST bersumber dari Kemensos, sedangkan BLT bersumber dari bagian dana desa yang dianggarkan APBDes.

“Namun dengan terpenting bagi masyarakat miskin serta yang terdampak Covid-19 dimana belum terkaver di program BST karena penambahan jumlah maka bisa dicover dengan program BLT, ” ujarnya.

(aky)