Potret Guru Sambangi Siswa di Pedesaan, Tak Menyerah Oleh Pandemi

TAPANULI UTARA – Pandemi virus corona (Covid-19) memaksa siswa belajar secara daring (online). Namun itu tak selamanya mulus, sebab sebagian siswa masih terkendala fasilitas seperti jaringan internet.

Melihat petunjuk ini, sesosok pria yang menggunakan jaket hitam mengendarai motor, mengikuti Dusun Huta Gultom, Desa Hutabarat, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Mengetengahkan, Provinsi Sumatera Utara.

Ia adalah Cukup Ginting, seorang guru sekolah dasar (SD) yang tengah bertugas menyambangi anak untuk mengajar langsung alias dengan door to door.

Pantauan di lokasi, instruktur tersebut menghampiri anak didiknya dengan telah berkumpul di Pendopo Kawasan. Terlihat anak-anak bergegas mengeluarkan logistik sekolah.

Pada kesempatan itu, guru mengajarkan pelajaran secara tematik. Siswa kendati antusias mengikutinya.

Untuk diketahui, Cukup Ginting adalah guru kelas VI SD Daerah 173123 yang berada di Dukuh Hapoltahan Hutabarat Tarutung. Belajar kaum dia gagas sebelum anak asuh memasuki tahun ajaran baru.

 

“Sebelum memasuki tahun ajaran segar, kita sudah lebih dulu mengambil persetujuan Kepala Sekolah serta orangtua murid secara door to door. Kepala Sekolah dan orangtua murid setuju, proses belajar-mengajar dengan cara belajar kelompok pun dilaksanakan, ” tuturnya kepada Okezone, Selasa (21/7/2020).

Baca Serupa:     Miris, Anak Sekolah di Sulteng Belajar di Tengah Terjangan Banjir

Ia melanjutkan, sistem door to door merupakan salah satu solusi bagi siswa yang tak memiliki fasilitas smartphone atau akses internet. Dengan sistem ini ia meminta orangtua tak dipusingkan dengan model belajar secara online.

“Itulah yang menjadi pokok pemikiran kita menggagas belajar kaum, daripada memilih proses belajar-mengajar dengan daring. Di tengah pandemi Covid-19, anak-anak harus tetap belajar serta ‘Jangan Mau Kalah dengan Covid-19, ” ucapnya.

“Pandemi ini harus dilalui bersama-sama, namun pendidikan generasi bangsa tanpa sampai terabaikan, ” ucap Lulus Tarigan.

Alumni 1997 Fakultas Keguruan Universitas Nomensen Medan ini menjelaskan, anak didiknya berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelima kelompok belajar pada hari yang sepadan namun di tempat berbeda.

“Kelompok Pendopo itu misalnya, kita berikan dan terangkan materi pembelajaran, kemudian kita berikan tugas. Lalu kita tinggal dulu untuk memberikan materi pembelajaran yang sama kepada kelompok lainnya. Cara belajar kelompok, kita yakini anak-anak tidak tertinggal pembelajarannya di sedang pandemi Covid-19 ini, ” jelasnya.

Baca Juga:     32 Upah Siswa Tidak Memiliki Akses buat Belajar di Rumah Selama PSBB

Meski door to door, Cukup Tarigan mengaku tidak mendapatkan tambahan insentif dari bagian sekolah atau pihak lain. Biar begitu ia ikhlas menjalani jalan ini, apalagi ini inisiatif tunggal.

(abp)

Loading…