Cerita Warga Indonesia yang Tinggal dalam New York saat Pandemi Covid-19

JAKARTA – Farichah Tri Askarini, lupa seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di New York, Amerika Serikat, menceritakan kehidupan ditempat tinggalnya saat pandemi Covid-19 berlangsung. Diketahui, New York merupakan lengah kota dengan penduduk terpadat dalam dunia.

Farichah mengakui, New York memang menjelma salah satu kota dengan angka kasus positif Covid-19 tertinggi pada dunia. Menurut Farichah, salah satu penyebab tingginya angka kasus tentu Covid-19 di New York, karena padatnya penduduk.

Ia menceritakan, kebanyakan warga yang ada di New York merupakan para pekerja. Beberapa diantaranya, kata Farichah, kesulitan untuk mendapatkan tempat status. Oleh karenanya, mayoritas pekerja tengah waktu di New York susunan di sebuah kosan.

“Saya kasih gambaran, saya liat sehari-hari, tempat tinggal disini sangat mahal. Banyak orang yang tidak sanggup menyewa apartemen. Di kawasan sini saja selalu ada dengan menyewakan kamarnya untuk kosan, ” ungkap Farichah saat bercerita lewat sambungan video conference, Sabtu (9/4/2020).

 

Lebih lanjut, beber Farichah, banyak warga New York dengan kesulitan menerapkan social distancing dalam rumah. Kebanyakan social distancing yang dianjurkan oleh pemerintah dalam rangka memutus penyebaran Covid-19, cakap Farichah, hanya terjadi di asing rumah.

“Jadi sosial distancing itu diluar vila saja, di jalan-jalan. Tapi di rumah kita enggak tahu. Kita tidak tahu, saya misalnya tidak tahu, saya bekerja, suami berjalan, saya tidak tahu suami kembali kerja ketemu siapa, pegang barang apa, sampai rumah kan kita tak tahu, ” ucapnya.

Farichah menambahkan, banyak rumah lara yang kerepotan karena membludaknya pasien saat awal-awal pandemi Covid-19. Kebanyakan pasien tersebut, imbuhnya, panik yang kemudian ingin konsultasi ketika mempunyai gejala yang mirip dengan Covid-19.

“Jadi penuh rumah sakit tidak bisa menerima, itu mungkin banyaknya disitu, karena banyak penduduknya. Yaitu jadi susah, ” terangnya.

(wal)