Angan Jalan-jalan di Titik Nihil Corona, Selamat Ulang Tarikh Jenderal Kopassus

JAKARTA – “Surga-surga kebahagiaan” Doni Monardo, telah tiba sore itu, 10 Mei 2021. Mereka yang hadir ialah Santi Ariviani, istri tercinta. Lalu putri sulung, Azzianti Riani Monardo bersama suaminya, Kapten (Inf) Mochammad Arief Wibisono serta dua cucu kesayangan. Tampak pula si bungsu Azel (Adelwin Azel Monardo). Sedangkan, putra ke-2, Alka (Reizalka Dwika Monardo) absen, karena masih mengikuti pendidikan militer di Magelang.

(Baca pula: Terungkap! Viktor Yeimo Ternyata Punya Hubungan Khusus dengan Veronika Koman )

Adalah Korpsri Kolonel Czi Budi Irawan yang mengatur jadwal rutin sedemikian rupa, sehingga sore keadaan selepas jam kantor, tak lagi diisi kegiatan dinas Satgas ataupun BNPB. Lalu, Budi membebaskan agenda mematok malam khusus hanya bagi “surga-surga nyata” Doni.

“Awal-awal pandemi, tarikh lalu, pak Doni terkadang hanya tidur tiga-empat tanda saja. Selebihnya berkutat dengan urusan kebencanaan dan pengoperasian Covid-19. Keadaan itu sudah berlangsung setahun lebih, semenjak ia memutuskan tidur pada kantor, ” kata Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB mengomentari totalitas Doni.

(Baca juga: Tok! Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1442 H Jatuh pada 13 Mei 2021)

Ditambahkannya, beberapa pekan terakhir, Doni Monardo bahkan dijuluki pejabat paling cerewet, karena statemennya yang mengalir lebat setiap hari di media massa, terkait larangan mudik. Doni bersedia tidak beken dan siap di-bully netizen gara-gara ketegasan sikapnya menyimpan instruksi presiden tentang kekangan mudik 2021. Kata Doni, tak apa cerewet biar korban covid tidak berderet.

Awak dalam lantai 10 Graha BNPB yang setia menemani, mengalami, betapa kehadiran orang-orang tercinta di hari ulang tahunnya akan terasa istimewa. Alhasil, sore menjelang berbuka pertarakan hingga malam hari, agenda dibuat semi-private. Tentu dengan prokes ketat. Syukuran diisi kipas lilin pengganti tiup lilin, potong kue, berdoa masing-masing di dalam kepala. Menjadi spesial karena yang berulang tahun hanya ditemani keluarga inti.

Angan Jalan

Usai berbuka puasa, Doni mengambil wudhu dan menjalankan sholat maghrib. Kembali ke ruang Multy Media di lantai 10, tak jauh dari ruang kerjanya, untuk melanjutkan prasmanan. “Sebentar lagi kan abu pensiun, berarti sudah luput dong? ” ucap Santi kepada suaminya, yang duduk di sebelah.

Doni tidak segera membalas, dan tekun mengunyah menu nasi kuning dan pallubasa yang disajikan awak lantai 10. Ia hanya senyum.

“Waaah… lupa. Jadi kita bisa jalan-jalan yaaa…. Sudah lama sekali tidak jalan-jalan, ” hentakan Santi dengan sumringah. Suatu angan jalan-jalan yang dirindukan.

Ada jalan membuncah dari narasi & ekspresi Santi. Tulang rusuk Doni Monardo yang begitu setia dan sabar mendampinginya. Termasuk, merelakan suami terbaring di kantor demi kejayaan tugas menjadi panglima konflik melawan pandemi. Demi perintah kemanusiaan penanggulangan bencana.

Meski tak terucap dalam kalimat, tumpukan perasaan yang ada di dasar hati Santi sejatinya mampu setebal novel. Tentang dengan jalan apa kecemasan hatinya mendengar informasi suaminya nyaris celaka masa helikopter yang dinaikinya kandas terbang di Tahuna, Januari 2020. Tentang bagaimana hatinya laksana disayat sembilu, demi mengetahui suaminya pulang bukan untuk berbagi waktu, tetapi terpaksa pulang karena terpapar Covid-19.

Jika Anda mengira Doni Monardo adalah pria tangguh, penguasa yang tak kenal lemah (meminjam istilah Menko PMK, Prof Muhadjir Effendy—pen), oleh karena itu sejatinya, perempuan bernama Santi, jauh lebih tangguh.

Bayangkan, sekitar tigapuluh tahun, bersuamikan Doni yang anggota Kopassus. Menempuh kawasan penugasan mulai dari Timor Timur, Aceh, sampai perintah menjadi “tameng hidup” bagi kepala negara. Semua penugasan yang bertaruh nyawa. Di setiap hari, melepas kepergian suami ke tempat kerja secara iringan doa semoga terjamin kembali ke pelukannya.

Gendong Cucu

Suasana pun mencair ketika pengikut lantai 10 menayangkan gambar pendek ucapan ulang tarikh untuk sang komandan. Semua gembira. Semua tertawa. Telah tidak ada gurat sedih di wajah Santi. Yang terjadi kemudian berubah menjelma wajah haru, ketika tahu suaminya menimang-nimang cucu kedua, Zahra (Azzahra Rania Wibisono).

Meski usianya baru 10 bulan, tapi Zahra “tak bisa diam”. Tangannya sangat gesit menyambar apa saja yang tersedia di dekatnya. Termasuk kala Doni lengah dan tangan Zahra menyambar piring mungil hingga terjatuh ke dasar, “praang….. ”.

Bunyi keras yang mengagetkan. Kaget yang disusul berantakan tawa kegelian melihat tingkah Zahra yang meronta-ronta tidak bisa diam di gendongan Doni Monardo.

Begitulah. Doni melalui tanda demi jam di hari ulang tahunnya dengan sinting yang mekar. Di kurun sekian banyak kue, bunga ulang tahun kiriman kolega, serta pernak-pernik hadiah, bisa dipastikan, kado istimewa tak lain dan tak tidak adalah hadirnya istri, bujang, menantu, dan cucu.

Titik Nol Corona

Akan halnya Egy, yang rajin mencatat aktivitas Doni dan kemudian menjadikannya wacana. Tahun lalu (2020), Egy menghadiahi Doni Monardo dua judul buku sekaligus: Secangkir Kopi di Bawah Pokok kayu dan Sepiring Sukun di Pinggir Kali. Dua wacana dengan satu tagline: Tindakan Doni Monardo Menjaga Negeri.